Visitors

choose

Sabtu, 17 Maret 2012

Tepung Santang - Cara pembuatan

Kelapa merupakan tanaman serba guna, dapat dimanfaatkan dari akar sampai
daunnya. Daging buah kelapa adalah bagian yang paling banyak digunakan untuk
produk-produk pangan.  Daging buah kelapa merupakan salah satu sumber minyak dan
protein yang penting, dan dapat diolah menjadi kopra, minyak dan santan.
Santan adalah suatu cairan yang diperoleh dengan cara pengepresan parutan
kelapa dengan atau tanpa penggunaan air. Rasa gurih santan disukai oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia. Hampir semua masakan khas Indonesia selalu menggunakan
santan, misalnya rendang, sayur lodeh,  kolak, kari, opor, kue-kue, nasi uduk, dan
sebagainya.
Di Indonesia, pengolahan kelapa menjadi santan sebagian besar masih dilakukan
secara sederhana pada skala rumah tangga. Cara tersebut dianggap kurang praktis karena
memakan banyak waktu dan tenaga, terutama  jika diperlukan dalam jumlah besar. Di
samping itu, santan segar secara almiah mudah sekali rusak, dan hanya bertahan selama
24 jam. Tingginya kandungan air, protein dan lemak merupakan media yang baik bagi
pertumbuhan mikroba. Untuk mempertinggi umur simpannya, atau untuk keperluan yang
lebih luas (misalnya untuk ekspor) dan agar lebih praktis diperlukan cara pengolahan
santan yang tepat.
Santan mempunyai sifat fisik dan komposisi yang mirip susu sapi, sehingga dapat
ditangani dengan cara yang sama. Salah satu pengolahan susu  yang banyak dijumpai
adalah dalam bentuk bubuk atau tepung susu. Oleh karena adanya kemiripan antara
santan dan susu, maka santan dapat diolah menjadi bentuk bubuk atau tepung. 
Proses Pengolahan
Bahan yang digunakan adalah kelapa dari jenis kelapa  dalam, yang dibuat
menjadi santan dengan perbandingan parutan daging kelapa dan air = 1 : 2. ekstraksi
santan dilakukan dengan menggunakan press hidrolik. Kemudian santan yang diperoleh
dipisahkan menjadi skim dan krim dengan alat “cream saparator”. Jika tidak digunakan,
skim dan krim santan disimpan pada suhu 4o
C, dalam wadah tertutup dan tidak tembus
cahaya.
Untuk meningkatkan kandungan total padatan digunakan bahan pengisi yang
terdiri dari Natrium kaseinat  10%, dekstrin dan Tween 80. Natrium kaseinat 10% dibuat
dengan melarutkan kasein dalam air dan diatur pH-nya sampai 8.5 – 8.7 dengan
menggunakan NaOH 0.1 N. 
Sebagai alat pengering digunakan pengering semprot (“spray dryer”). Pada
mulanya hanya susu yang merupakan produk yang paling umum dikeringkan dengan
spray drier. Akan tetapi, kini di beberapa negara sudah mulai menggunakan pengering
semprot untuk membuat makanan bayi, tepung sari buah, tepung konsentrat buah, tepung 
telur, bahan pemutih minuman, tepung keju, tepung mentega, tepung santan dan lain-lain.
Peralatan lain yang diperlukan adalah homogenizer. Proses homogenisasi yang dilakukan
pada tekanan tinggi akan menghasilkan tepung  santan dengan partikel yang lebih kecil
sehingga emulsi santan lebih stabil.
Santan yang akan diolah sebaiknya mempunyai perbandingan krim dan skim = 1 :
5. Kemudian  ke dalamnya ditambahkan bahan pengisi yang terdiri dari 6.5% (berat
kering) Natrium kaseinat 10%, 10% (berat  kering) dekstrin dan 0.15% (berat basah)
Tween 80. Santan utuh (tidak dipisahkan  menjadi krim fan skim) dapat pula dibuat
tepung santan, dan tetap harus diberi bahan pengisi seperti di atas, tetapi hasilnya kurang
kompak dan kurang halus.
Setelah ditambahkan bahan pengisi, kemudian dilakukan pencampuran (mixing)
dengan cara pengadukan dengan menggunakan blender atau mixer, dan selanjutnya
dihomogenisasi pada tekanan 1000 – 1500 psi. Tahap selanjutnya adalah pemasukan
bahan ke dalam pengering semprot dengan kondisi sebagai berikut : tekanan 4.5 – 5.0
bar, suhu udara masuk 170 – 185o
C dan suhu udara keluar 80 – 95oC
Selanjutnya tepung santan yang keluar  dari “spray dryer” dikemas dengan
menggunakan plastik polietilen atau alumunium foil dengan sistem pengemasan vakum
(hampa udara). Keadaan vakum ini sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas komponen
tepung santan, terutama lemak yang mudah teroksidasi jika terdapat udara sehingga
menyebabkan ketengikan. Tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemasan yang
paling baik digunakan untuk tepung santan adalah alumunium foil dengan sistem vakum.

Sifat Fisik Tepung Santan
Hasil pengujian organoleptik terhadap warna menunjukkan bahwa perbandingan
krim : skim = 1 : 5 lebih disukai (karena  lebih putih) dibandingan perbandingan krim :
skim lainnya. Hal yang sama terjadi untuk kehalusan bubuk santan, sedangkan untuk
pengujian bau menunjukkan hasil yang disukai.
Penggunaan bagian krim yang lebih besar  lagi akan menghasilkan bubuk santan
dengan kandungan protein, air, serat kasar dan abu yang cenderung menurun serta
kandungan lemak yang lebih besar. Santan hasil rekonstitusi (santan bubuk yang
ditambah air) mempunyai globula lemak yang lebih besar dibandingkan dengan santan
segar. Disamping itu juga hanya mempunyai sekitar 49% dari stabilitas emulsi santan
segar. 

Skema pembuatan tepung santan

VCO - Cara pembuatan

Cara pembuatan VCO secara tradisional yang mudah :

 Pembuatan VCO secara tradisional sudah sejak lama dipraktikkan oleh ibu-ibu di pedesaan. Umumnya, VCO yang dihasilkan digunakan untuk minyak goreng. Di beberapa daerah, minyak ini lebih dikenal dengan nama minyak kelentik atau minyak krengseng. Pembuatan minyak kelapa ini merupakan upaya pemanfaatan buah kelapa yang dipanen dari kebunnya sendiri. Biasanya, kelapa yang sudah dipanen hanya mampu bertahan selama 1-2 bulan. Setelah itu, buah kelapa akan busuk, atau tumbuh menjadi anakan baru. Di samping itu, mahalnya harga minyak goreng baik yang berbahan baku kelapa, kelapa sawit, jagung, atau kedelai di pasaran juga menjadi alasan lain.
Umumnya, ibu rumah tangga hanya memproduksi minyak kelapa dalam jumlah sedikit (misalnya 20-25 butir kelapa) dalam sekali produksi. Dari bahan baku tersebut, dihasilkan sekitar 2-3 liter minyak kelapa, tergantung dari kualitas kelapa yang digunakan dan proses pembuatannya. Frekuensi pembuatannyapun cukup lama, biasanya sampai minyak goreng tersebut habis. Alasan lain yangmembuat produksi dalam jumlah sedikit juga disebabkan karena daya simpan minyak kelapa goreng tidak bisa terlalu lama, sekitar 1-2 bulan. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pemanasan. Di atas suhu 80° C saat proses pemanasan berlangsung, banyak kandungan antioksidan yang menguap dan hampir semua jenis protein mengalami denaturasi. Oleh karenanya, minyak kelapa mudah teroksidasi sehingga menyebabkan ketengikan.
Proses pembuatan minyak kelapa murni dengan cara tradisional sangat mudah untuk diterapkan oleh petani di pedesaan. Di samping peralatan yang digunakannya sangat sederhana, teknologi prosesnya pun cenderung mudah dilakukan. Tahap yang perlu dilalui untuk terbentuknya minyak kelapa yaitu pembuatan santan kelapa. Dengan Cara pemanasan, dari santan ini akan diperoleh minyak kelapa. Pemanasan yang dilakukan sangat tergantung pada besar-kecilnya api yang digunakan. Umumnya, bersuhu sekitar 100 – 110 °C. Suhu ini dikatakan ideal karena pada suhu tersebut air yang terdapat dalam santan akan menguap. Dengan demikian, protein yang berikatan dengan air pun akan pecah.
Selanjutnya, protein akan mengalami denaturasi (rusak). Dengan demikian, protein yang mengikat lemak (minyak) dari santan kelapa akan rusak juga. Minyak kelapa ini kemudian akan bebas dari ikatan-ikatan emulsi dengan protein sebagai emulgatornya. Dengan lepasnya ikatan-ikatan tersebut, minyak akan mengumpul tersendiri. Sementara protein pun akan berkumpul menjadi satu. Protein tersebut dikenal dengan nama blondo (tahi minyak). Pada pengolahan VCO secara tradisional, blondo akan berwarna kecokelatan karena suhu yang digunakan cukup tinggi (100-110° C). Sementara air yang masih terdapat dalam santan akan menguap selama proses pemanasan.
Bahan Baku
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan VCO secara tradisional yaitu daging buah kelapa. Sementara bahan tambahan pada proses pembuatan VCO secara tradisional tidak diperlukan. Kualitas bahan (kelapa) yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas VCO yang dihasilkan, di samping juga dipengaruhi oleh proses produksi. Kecuali itu, kualitas bahan yang digunakan juga berpengaruh terhadap rendemen VCO yang dihasilkan. Semakin baik mutu kelapa yang digunakan, kualitas VCO yang dihasilkan juga akan semakin baik, di samping juga rendemennya semakin tinggi, demikian sebaliknya. Adapun ciri-ciri kelapa yang baik untuk digunakan sebagai bahan pembuatan VCO seperti berikut ini.
a) Berasal dari varietas kelapa dalam atau kelapa hibrida lokal. Rendemen yang diperoleh dari varietas ini akan lebih banyak dibandingkan dengan kelapa hibrida.
b).Telah berumur 11-13 bulan. Umur kelapa yang akan digunakan untuk membuat VCO
tidak boleh terlalu muda atau kelewat tua. Apabila terlalu muda, kandungan minyaknya masih sangat rendah sehingga rendemen yang dihasilkan akan sedikit. Sebaliknya, bila kelapa yang digunakan sudah terlalu tua, banyak kandungan minyak yang sudah diubah menjadi karbohidrat. Dengan demikian, rendemen yang dihasilkan pun akan sedikit.
c) Berat kelapa berkisar 130 g/butir. Sebaiknya, ukuran kelapa dipilih yang seragam agar memudahkan dalam penanganan.
d) Kulit sabut kelapa sudah berwarna cokelat. Hal ini menandakan bahwa kelapa tersebut sudah cukup tua.
e) Apabila dikoclak, bunyinya akan terdengar nyaring. Tentu saja hal ini sangat berhubungan dengan jumlah air yang terdapat di dalamnya. Apabila koclak, menandakan bahwa jumlah air yang berada di dalam kelapa telah berkurang. Berkurangnya jumlah air ini berhubungan dengan dekomposisi kandungan gizi kelapa. Banyak kandungan zat-zat gizi dari air kelapa yang dipindahkan ke dalam daging buahnya. Dengan demikian kandungan zat gizi yang terdapat di dalam daging buah akan bertambah banyak, terutama kandungan minyak atau lemaknya.
f) Kelapa belum berkecambah. Apabila sudah berkecambah, kelapa tersebut sudah terlalu tua sehingga kandungan gizinya banyak yang sudah berubah.
g) Apabila dibelah, daging buah berwarna putih dengan ketebalan berkisar 10-15 mm. Pada pangkal kelapa, sudah terdapat benjolan kecil berwarna kekuningan, disebut gandos. Apabila gandos tersebut sudah besar, sebaiknya tidak digunakan karena kandungan minyak dalam daging buah sudah banyak berkurang.
Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan VCO secara tradisional sebagai berikut.
1) Slumbat, alat ini digunakan untuk mengupas kelapa dari sabutnya. Alat ini sering digunakan oleh petani, terutama di pedesaan. Namun, bila ada mesin untuk mengupas sabut kelapa juga bisa digunakan agar pekerjaan mengupas kelapa menjadi lebih cepat. Di samping itu, bila anggaran sangat terbatas, parang juga bisa digunakan untuk mengupas kelapa. Namun, pengupasan kelapa dengan alat ini sangat lama.
2) Golok atau parang, alat ini digunakan untuk memecah tempurung kelapa sehingga air kelapa bisa mengalir keluar. Sebaiknya, golok atau parang yang digunakan dipilih yang berbahan besi atau baja. Tujuannya tentu saja agar proses pemecahan tempurung bisa berjalan dengan baik, di samping juga agar basil yang diperoleh terkesan rapi.
3). Ember digunakan untuk menampung air kelapa. Sebaiknya bahan ember berupa karet agar tidak mudah pecah saat diangkat atau dipindahkan bila telah terisi penuh. Ember yang digunakan tidak harus bagus, tetapi kebersihan harus tetap dijaga.
4). Penyukil digunakan untuk memisahkan daging buah kelapa dari tempurung yang menempel. Sebaiknya, penyukil terbuat dari besi agar tidak mudah berkarat. Hal yang terpenting yaitu bahwa mata pisau penyukil hams tajam agar mudah masuk ke dalam sela-sela daging buah dan tempurung. Selain itu, gagang (pegangan) penyukil juga harus nyaman sehingga memudahkan dalam penyukilan daging kelapa.
5).Mesin pemarut digunakan untuk memarut daging buah kelapa. Apabila tidak memungkinkan untuk mengadakan mesin pemarut, sementara bisa menggunakan parutan yang terbuat dari kayu dan dipasang mata pisau untuk memarutnya. Hal yang terpenting dari pemarut yaitu mata pisaunya, yaitu hams tajam dan tidak mudah berkarat. Bila periu, lakukan pengolesan minyak setelah dipakai, tentu saja sebelumnya harus dibersihkan dari sisa ampas yang masih menempel. Mata pisau ini juga erat kaitannya dengan tingkat kehalusan ampas kelapa yang diperoleh. Semakin halus butiran ampas kelapa tersebut, akan menghasilkan santan kelapa yang lebih banyak, demikian sebaliknya.
6). Kain saring santan digunakan untuk menyaring ampas kelapa saat memeras. Dengan demikian, ampas kelapa tidak terikut bersama dengan santan. Kain saring yang dipilih bisa berupa kain kaos sehingga air santan mudah keluar saat dilakukan pemerasan, sedangkan ampas kelapa tetap tertinggal di dalam kain tersebut.
7). Stoples digunakan untuk mengendapkan santan kelapa sampai terbentuk dua lapisan, yaitu krim (kepala santan/kanil) dan skim. Skim berisi protein yang terlarut dalam air. Stoples yang digunakan sebaiknya berwarna terang (transparan) sehingga kedua lapisan tersebut dapat dengan mudah bisa dilihat. Sementara bahan stoples bisa terbuat dari plastik agar ringan (tidak berat).
8). Selang digunakan untuk membuang skim santan. Bahan selang bisa terbuat dari karet agar mudah ditekuk dan tidak lengket bila tidak digunakan. Kran pun bisa digunakan untuk menggantikan fungsi selang. Kran air yang digunakan bisa berukuran 3/4 inci dan dipasang di dasar stoples.
9). Wajan digunakan untuk memasak kepala santan hingga terbentuk minyak. Sebaiknya, bahan wajan terbuat dari email sehingga tidak mudah gosong saat proses pemasakan dilakukan. Ukuran wajan disesuaikan dengan kapasitas produksi yang sedang dijalankan.
10). Pengaduk digunakan untuk mengaduk santan saat pemasakan dilakukan. Pengaduk bisa bempa susuk atau centong. Hal yang perlu diperhatikan, centong harus berukuran panjang agar tangan tidak merasa panas saat mengaduk santan. Di samping itu, bahan centong juga tidak berupa bahan yang mudah menghantarkan panas, misalnya besi. Kalau terbuat dari besi, bisa disambung dengan kayu agar tidak menghantarkan panas. Bahan centong juga hams tahan panas sehingga tidak mudah meleleh.
11). Kompor digunakan sebagai sumber pemanas dalam proses pemasakan santan menjadi minyak kelapa. Kompor yang digunakan bisa berbahan bakar minyak tanah atau gas. Dengan kedua kompos ini, besar-kecilnya api bisa dengan mudah diatur. Tungku juga bisa digunakan sebagai alat pemanas dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Namun, umumnya api yang dihasilkan tidak bisa diatur dengan mudah sehingga penyebaran panas tidak bisa merata. Selain itu, api yang cukup besar juga bisa membuat gosong pada wajan dan minyak kelapa yang dihasilkan.
12). Kain saring digunakan untuk menyaring minyak kelapa yang mungkin masih bercampur dengan blondo. Untuk menghasilkan minyak kelapa murni berkualitas bagus, penyaringan juga bisa dilakukan dengan kertas saring.
13). Kertas saring digunakan untuk menyaring VCO dari kotoran yang masih bisa lobos oleh penyaringan menggunakan kain. Kertas saring yang digunakan untuk menyaring VCO yang dibuat secara tradisional hanya terdiri dari satu macam, yaitu ukuran 10 mikron. Kertas saring dipotong kecil sesuai dengan ukuran corong. Kertas saring bisa dibeli di toko kimia atau apotek. Harganya bervariasi, tetapi kisarannya sekitar Rp 4.000,00.
Cara Pembuatan
Tahap pembuatan VCO secara tradisional dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pembuatan santan kelapa, pembuatan VCO, serta penyaringan.
1. Pembuatan santan kelapa:
Adapun tahap-tahap pembuatan santan kelapa secara tradisional sebagai berikut.
a).Kupas sabut kelapa dengan slumbat sampai sabut tersebut terpisah dari daging buah kelapa yang masih terbungkus oleh tempurung kelapa. Selain slumbat, parang atau mesin pengupas kelapa juga bisa digunakan, tergantung skala usaha yang kita inginkan, dan tentu saja juga disesuaikan dengan anggaran yang kita miliki. Pada proses ini diperoleh sabut kelapa sebagai hasil sampingnya. Sabut kelapa masih bisa diolah menjadi berbagai kerajinan tangan dan media tanam
b).Belah kelapa yang masih terselubungi oleh tempurung kelapa menggunakan golok. Pada proses ini, sekaligus juga bertujuan untuk membuang air kelapa. Seperti pada sabut, air kelapa juga masih bisa digunakan untuk membuat kecap, asam, dan nata de coco.
c) Congkel daging buah kelapa yang masih melekat pada tempurung menggunakan pisau penyukil. Pada proses ini juga akan menghasilkan tempurung sebagai hasil sampingnya. Tempurung kelapa masih bisa dimanfaaatkan untuk pembuatan arang dan asap cair.
d) Cuci daging buah kelapa yang sudah terkumpul di dalam ember. Pencucian sebaiknya menggunakan air mengalir agar lebih cepat bersih, di samping juga lebih bersifat higienis.
e) Haluskan ukuran daging buah kelapa menggunakan pemarut. Apabila memungkinkan, bisa menggunakan mesin pemarut agar proses pemarutan bisa berjalan dengan cepat. Usahakan ukuran partikel parutan sekecil mungkin agar santan yang diperoleh lebih banyak.
f) Campurkan air ke dalam hasil parutan dengan perbandingan 10 : 6. Artinya, dari hasil parutan 10 butir kelapa ditambahkan 6 liter air. Apabila jumlah air yang ditambahkan terlalu sedikit, kemungkinan masih ada sisa minyak yang tertinggal di dalam ampas kelapa. Namun, bila penambahannya terlalu banyak, hanya akan menyulitkan saat membuang air karena jumlah air dibandingkan minyak dalam santan jauh lebih banyak.
g) Remas-remas santan menggunakan tangan. Tujuannya yaitu untuk mengeluarkan seluruh kandungan gizi, terutama minyak yang terdapat dalam butiran daging buah kelapa yang sudah halus. Semakin lama peremasan tentu saja akan menghasilkan minyak dalam santan yang lebih banyak. Sebaiknya peremasan dihentikan manakala air bilasan air sudah tidak berwarna putih (agak bening). Hal ini menandakan bahwa kandungan santan sudah berkurang.
h) Saring santan menggunakan kain saring. Tujuannya untuk memisahkan antara santan dengan ampasnya. Peras ampas yang masih terdapat di dalam kain saring agar sisa santan yang masih terdapat di dalam ampas bisa keluar semuanya.
2. Pembuatan VCO
Adapun tahap pembuatan VCO dengan cara tradisional sebagai berikut:
a) Endapkan santan pada ember transparan selama satu jam hingga terbentuk krim santan (kanil/kepala santan) dan skim santan. Krim santan berada di bagian atas karena mengandung minyak dalam jumlah banyak. Seperti yang kita tahu, bahwa berat jenis minyak lebih ringan dibandingkan berat jenis air. Sementara skim santan berada di bawah karena umumnya terdiri dari air dan protein. Ambil air (bagian bawah) dengan selang hingga tingggal tersisa krim bagian atasnya.
b) Ambil krim santan dan masak di atas kompor dengan suhu sekitar 100-110° C menggunakan wajan. Panaskan hingga mendidih. Aduk-aduk santan selama proses pemasakan agar panas yang diterima oleh santan bisa merata.
c) Matikan api kompor bila sudah terbentuk minyak dan blondo. Lama waktu yang dibutuhkan sampai terbentuk minyak berkisar 3-4 jam. Umumnya, minyak tersebut tidak berwarna bening, tetapi sedikit kekuningan. Sementara blondo berwarna kecokelatan. Blondo ini masih bisa dimanfaatkan sebagi bahan pangan, misalnya untuk pembuatan kue. Saring blondo dari minyak menggunakan serok. Upayakan penyaringan berjalan dengan sempurna agar tidak ada lagi sisa blondo yang terdapat di dalam minyak.
3. Penyaringan
Penyaringan dilakukan untuk memisahkan minyak dari ikutan-ikutan, berupa blondo dan kotoran lainnya. Penyaringan di sini tidak bertujuan untuk menjernihkan warna VCO. Penyaringan dilakukan dengan kain dan kertas saring. Adapun cara penyaringan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.
a) Pasang kain pada corong yang telah dihubungkan dengan botol kaca. Sedikit demi sedikit, tuang VCO ke dalamnya. Sebaiknya penyaringan dilakukan dengan hati-hati karena ditakutkan tumpah.
b) Saring hasil saringan pertama dengan kertas saring. Adapun cara penyaringannya sama dengan penyaring dengan kain.

Nata De Coco - Cara pembuatan

Nata de coco merupakan makanan hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylium. Bakteri inilah yang merubah air kelapa menjadi serat selulosa. Berikut resep dan cara membuatnya :

Bahan yang diperlukan :
  • Air kelapa 2 ½ liter
  • Gula pasir 200 gr
  • Pupuk ZA (urea) ½ sendok makan
  • Asam cuka glacial (CH3COOH ) ½ sendok makan
  • Bibit/starter bakteri Acetobacter xylium 200 ml (Bisa diperoleh di laboratorium pertanian)
Cara Membuat Nata de Coco :
  1. Rebus semua bahan kecuali bibit bakteri dan asam. Saring dan dinginkan dalam suhu 25-30oC. Tambahkan bakteri Acetobacter xylium dan asam cuka, aduk rata. Tuang campuran ini dalam baskom atau loyang pelastik hinga ketinggian air 2 cm. Tutup atasnya dengan kain kasa atau kertas. Inkubasikan/fermentasikan selama kurang lebih 1 minggu dalam suhu ruang dan di tempat yang gelap.
  2. Setelah terbentuk lapisan nata, angkat lapisan yang menyerupai agar-agar ini. Potong-potong dan rendam dalam air bersih hingga rasa asamnya hilang.
  3. Agar lebih tahan lama, rebus nata selama 5-10 menit. Rendam dalam larutan sirup gula atau sirup buah aneka rasa.
  4. Kemas sesuai selera.

Asap cair - cara pembuatan

1.Cara praktis
Langkah praktis membuat asap cair
  1. bersihkan tempurung kelapa dari serabutnya
  2. kemudian ukurannya diperkecil
  3. sampel masukkan kedalam reaktor pirolisis. Pirolisis adalah pembakaran tertutup pada suhu tinggi biasanya pada suhu 400-600 0C. Proses tersebut menghasilkan zat dalam tiga bentuk yaitu padat, gas dan cairan. Komposisi cairan di dalam proses pirolisis ini tersebut adalah asap cair.
  4. proses berjalan dalam reaktor pirolisis selama 5 jam dan ditutup rapat. Reaktor kemudian dipanaskan selama 5 jam. Destilat yang keluar dari reaktor ditampung dalam dua wadah. Wadah pertama untuk menampung fraksi berat, sedangkan wadah kedua untuk menampung fraksi ringan. Fraksi ringan ini diperoleh setelah dilewatkan tungku pendingin yang dilengkapi pipa berbentuk spiral, hasilnya dalam bentuk cairan dan sisa gas metan yang kemudian dibakar. Sementara arang yang dihasilkan dapat di proses untuk briket, atau arang aktif. Mudah bukan.
  5.  
     
     
    Cocos Nucipera (Pohon Kelapa) merupakan pohon yang dari akar samapai pelepahnya bias dimanfaatkan. Salah satu manfaat dari bagian pohon kelapa ini adalah bisa dijadikan asap cair. Asap cair merupakan hasil kondensasi (Pengembunan) asap dari pembakaran tempurung kelapa.
    Sedangkan manfaat dari asap cair diantaranya sebagai pengganti formalin, pengawet makanan (mie, bakso, tahu dan udang), pengeras karet, penyamakan kulit, pengawet kayu, anti rayap dan desinfektan.

    Cara Membuat Asap Cair Dari Tempurung Kelapa :

    Bahan : Tempurung Kelapa100 kg

    Alat :
    • Drum Kapasitas 100 kg
    • Kompor
    • Pipa Penyalur Asap
    • Kondensor
    • Penampung Cairan/liquid

    Cara Membuat :

    Masukan seluruh tempurung kelapa ke dalam drum tertutup dan yang terhubung pipa saluran asap, bakar selama 6-8 jam.
    Asap akan keluar melalui pipa dan masuk ke drum penampungan asap, asap akan mulai mengembun/berkondensasi menjadi cairan/liquid dan Jadilah asap cair sebanyak 25 liter liquid.
    Asap cair yang dihasilkan masih berupa asap cair yang masih mengandung ter sehingga berwarna coklat pekat, pada asap cair ini sangat cocok untuk penggumpalan karet dan pengawetan kayu.
    Jika ingin digunakan sebagai pengawet makanan, asap cair harus berwarna cokelat bening (berarti ter telah berkurang termasuk aroma asapnya) dan untuk asap cair itu menjadi berwarna cokelat bening, harus diendapkan selama minimal 1 minggu, untuk mengendapkan ter saring dengan zeolet. Destilasi ulang asap cair tersebut sampai benar-benar berwarna cokelat dan Destilasi dilakukan pada suhu 120-150◦C.
     

All of about greetings

Sapaan/greetings

Sesama teman umumnya hanya saling mengucapkan “Hi”. Kemudian mereka juga sering melontarkan pertanyaan umum semisal:
“How are you?” (yang disebut guru saya tidak kreatif)
“How are you doing?” (tidak formal)
“How’s it going?” (tidak formal dan dapat digunakan secara rutin)
“How’s tricks?” (tidak formal dan dapat digunakan secara rutin)
“How are things? (tidak formal dan dapat digunakan secara rutin)
“Haven’t seen you for ages” (tidak formal dan digunakan kepada teman yang sudah lama tidak berjumpa)
“Great to see you again” (tidak formal dan digunakan kepada teman yang sudah lama tidak berjumpa)
“How’s life?” (tidak formal dan digunakan kepada teman yang sudah lama tidak berjumpa)
“Watcha!” (sangat tidak formal dan hanya digunakan untuk teman dekat)
“What’s up?” (sangat tidak formal dan hanya digunakan untuk teman dekat)
“How do you do?” (formal)
“Good day, Sir/Madam!” (sangat formal)

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini umumnya dijawab dengan jawaban yang positif, seperti:
“Fine” (yang juga disebut guru saya monoton)
“Pretty good”
“Not bad”
“Can’t complain”
“Never been better”
“Fabulous”
“Fantastic”
Sebaiknya, setelah melontarkan jawaban ini, Anda mengucapkan terima kasih. Misalnya, ucapkanlah “Not bad, thanks.” Praktek ini sangat umum di kalangan para penutur asli.
Sedangkan, untuk menyapa orang yang belum Anda kenal, lebih pantas menggunakan “Hello.” Untuk situasi yang lebih formal, gunakan “Good morning / afternoon / evening.”
Lawan bicara Anda umumnya akan menjawab dengan greetings yang sama dengan yang Anda lontarkan sebelumnya – kecuali bila sebelumnya Anda melontarkan greetings berupa pertanyaan. Bila Anda mengucapkan “Hello,” lawan bicara Anda akan membalas dengan “Hello.” Bila Anda mengucapkan “Good morning,” lawan bicara Anda juga akan membalas dengan “Good morning.”
Ada satu pengecualian di sini, yaitu untuk “How do you do?”. “How do you do?” merupakan sapaan yang cukup formal dalam British English. Balasan untuk sapaan ini adalah dengan mengulang kembali pertanyaan tersebut. Terkesan aneh memang, tetapi begitulah aturan tak tertulisnya. “How do you do?” sebenarnya bukan merupakan pertanyaan. Kalimat tersebut memiliki arti yang sama dengan “Hello.”

Ucapan selamat tinggal

Penting juga untuk mengucapkan selamat tinggal saat Anda akan pergi. Berikut adalah ucapan selamat tinggal untuk situasi informal:
“Goodbye” atau “Bye”
“See you (later)”
“Later”
Untuk situasi formal:
“Good morning / afternoon / evening”
“It was a pleasure seeing you”
“Goodbye”
“Good night” (umumnya setelah lewat pukul 8 malam)

99 conversations

Dalam belajar bahasa Inggris sebagian besar orang ingin cepat bebicara bahasa Inggris atau paling tidak dapat melakukan percakapan-percakapan dasar atau yang umum dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penulis sengaja menjabarkan 99 tanya jawab yang umum dalam bahasa inggris berikut terjemahannya dibawah ini:
1. How do you do? (salam kenal)
- How do you do. (salam kenal)
2. Do you speak English? (anda bisa bahasa Inggris?)
- Yes I do. (ya, saya bisa)
3. Is there anything I can help? (ada yang bisa saya bantu?)
- Yes, Can you help me to bring this luggage please?
(ya, Bisa tolong bawakan barang bawaan saya?)
- No, thank you. (tidak, terima kasih)
4. Can I help you? (bisa saya Bantu?)
- Yes, Can you help me to bring this luggage please?
(ya, Bisa tolong bawakan barang bawaan saya?)
- No, thank you. (tidak, terima kasih)
5. Can you help me? (Bisa tolong Bantu saya?)
- Yes, of course. (ya, tentu saja)
- I’m sorry. I can’t. (maaf saya tidak bisa)
6. What is your name? (Siapakah namamu?)
- My name is Airlangga. (Namaku Airlangga)
7. What is your complete name? (Siapakah nama lengkapmu?)
- My complete name is Aris Airlangga (nama lengkapku Aris Airlngga)
8. What is your nick name? (siapakah nama panggilanmu?)
- You can call me Angga. (kamu bisa memanggilku Angga)
9. Nice to meet you? (Senang berkenalan denganmu)
- Nice to meet you too. (senang berkenalan dengan anda juga)
10. Glad to see you. (Senang berkenalan denganmu)
- Nice to meet you too. (senang berkenalan dengan anda juga)
11. How are you? (Bagaimana kabarmu?)
- I’m fine, thank you. (aku baik-baik saja, terima kasih)
- I’m not really good to day (kabarku buruk hari ini)
12. Where do you live? (Kamu tinggal dimana?)
- I live on Jayabaya street, Block B, number 57-B.
(aku tinggal di Jl. Jayabaya, Blok B, nomor 57-B
13. What is your phone number? (berapa nomor teleponmu?)
- My phone number is 081955044372 (Nomor teleponku adalah 081955044372)
14. What is your occupation? (Apa pekerjaanmu?)
- I’m a police (Aku seorang polisi)
15. Where do you study? (kamu sekolah dimana?)
- I study at State Senior High School 7 Samarinda
(Aku sekolah di SMAN 7 Samarinda)
16. What is your religion? (Agamamu apa?)
- I’m a Moslem (Aku orang Islam)
- I’m a Christian (Aku orang Kristen)
- I’m a Catholic (Aku orang Katolik)
- I’m a Buddhism (Aku orang Budha)
- I’m a Hinduism (Aku orang Budha)
- I’m an Atheist (Aku tidak beragama)
17. What is your ethnic? (Apakah sukumu?)
- I’m Dayak ethnic. (aku orang dayak)
- I’m Java ethnic (aku orang Jawa)
- I’m Bugis ethnic (aku orang Bugis)
- etc
18. What is your ambition? (apakah cita-citamu?)
- I want to become a doctor. (aku ingin menjadi dokter)
19. What is your hobby? (apakah hobimu?)
- My hobby is playing music. (hobiku adalah bermain musik)
20. What is your marital status? (Apakah status pernikahanmu?)
- I’m marriage (Aku telah menikah)
- I’m single (aku belum menikah)
- I’m engaged (Aku sudah bertunangan)
- I’m a widow (Aku seorang janda)
- I’m a widower (Aku seorang duda)
21. Where do you come from? (Dari manakah asalmu?)
- I come from Canada. (Aku berasal dari Kanada)
22. Where is your home town? (Dimanakah kampong halamanmu?)
- Bontang is my home town. (Bontang adalah kampong halamanku)
23. What is your nationality? (Apakah kebangsaanmu?)
- I’m Indonesian (aku orang Indonesia)
24. How old are you? (Berapakah umurmu?)
- I’m twenty one years old (aku berumur 21 tahun)
25. What is your date of birth? (Kapankah tanggal lahirmu?)
- I was born on 27 January 1988 (Aku lahir pada tanggal 27 January tahun 1988)
26. What is your father job? (Apakah pekerjaan ayahmu?)
- My father is a teacher (Ayahku seorang guru)
27. What is your mother job? (Apakah pekerjaan ibumu?)
- My mother is a housewife (Ibuku seorang ibu rumah tangga)
28. How many brother and sister do you have? (Berapa saudara yang kau miliki?)
- I have three brothers and one sister.
(Aku punya tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan)
29. How do you go to work? (Kamu bekerja naik kendaraan apa?)
- I go to work by car (aku pergi bekerja naik mobil)
30. How do you go to school? (Kamu ke sekolah naik kendaraan apa?)
- I go to school by motorcycle (aku pergi ke sekolah naik motor)
31. What is your intention to come here? (Apa tujuanmu datang kemari?)
- I want to order some food (Aku ingin memesan makanan.)
32. Do you have any children? (Apakah kamu punya anak?)
-
33. How many children do you have? (I Berapa anak yang kau punyai?)
- Yes I have a daughter and two sons (Ya aku punya seorang anak perempuan dan
dua anak laki laki)
34. Do you have any pets? (Apakah kamu memiliki binantang peliharaan?)
- Yes, I have (ya, aku punya.)
- No, I don’t (aku todak punya)
35. What kinds of pets do you have? (Jenis binatang apa yang kamu pelihara?)
- I have a cat (aku memelihara kucing)
36. Can you drive a car? (Apakah anda bisa menyetir?)
- Yes I can (ya aku bisa)
- No, I can’t (aku tidak bisa)
37. Can you ride a motorcycle? (Apakah anada dapat mengendarai sepeda motor?)
- Yes I can (ya aku bisa)
- No, I can’t (aku tidak bisa)
38. Do you have any driving license? (Apakah anda punya Surat Izin Mengemudi (SIM)?)
- Yes I have (ya aku punya)
- No, I don’t (aku tidak punya)
39. What is your father’s name? (Siapakah nama ayahmu?)
- My father name is John (Nama ayahku adalah John)
40. What is your mother’s name? (siapakah nama Ibumu?)
- My mother name is Susan (Nama ibuku adlah Susan)
41. What is your sister’s name? (Siapakah nama saudara perempuanmu?)
- Her name is Joanna (namanya Juanna)
42. What is your brother’s name? (Siapakah nama saudara laki-lakimu?)
- His name is Benny (Namanya Benny)
43. What is your husband’s name? (Siapakah nama suamimu?)
- His Name is Smith (Namanya Smith)
44. What is your wife’s name? (Siapakah nama istrimu?)
- Her name is Maya (Namanya Maya)
45. What is your son’s name? (Siapakah nama anak laki-lakimu?)
- His name is Aaron (Namanya Aaron)
46. What is your daughter’s name? (Siapakah nama anak perempuanmu?)
- Her name is Lily (Namanya Liliy)
47. What is your uncle’s name? (Siapakah nama pamanmu?)
- His name is Tony (Namanya Tony)
48. What is your aunt’s name? (Siapakah nama bibimu?)
- Her name is Cassie (Namanya Cassie)
49. What is your grandfather’s name? (Siapakah nama kakekmu?)
- His name is Mr. Benson (Namanya Pak Benson)
50. What is your grandmother’s name? (Siapakah nama nenekmu?)
- Her name is Mrs. Kelly (Namanya nyonya Kelly)
51. What is your favorite color? (Apakah warna favoritmu?)
- My Favorite color is Blue (Warna kesukaanku adalah biru)
52. What is your favorite food and drink? (Apakah makanan dan minuman faforitmu?)
- My favorite food and drink is Meatball and Orange juice.
(Makanan dan minuman kesukaanku adalah bakso dan jus jeruk)
53. What is your favorite book? (Apakah buku kesukaanmu?)
- My favorite book is Harry Potter (Buku kesukaanku adalah Harry Potter)
54. What is your favorite learning subject? (Mata pelajaran apa yang paling kau sukai?)
- I like Biology (Aku suka Biologi)
55. What is your favorite song? (Lagu apa yang paling kau suka?)
- I like when you are gone by Avril (Aku suka lagunya Avril When you are gone)
56. What is your favorite movie? (Apakah film kesukaanmu?)
- My favorite movie is Transformer (Film kesukaanku adalah Transformer)
57. What is your favorite sport? (Apakah olahraga kegemaranmu?)
- I like football (Aku suka sepakbola)
58. Who is your favorite actor or actress? (Siapakah actor dan aktris idolamu?)
- My favorite actress is Jennifer Lopez (artis Favoritku adalah Jennifer Lopez)
59. Do you have a boyfriend/girlfriend? (Apakah kamu punya pacar?)
- Yes I have (ya aku punya)
- No, I don’t (Aku tidak punya)
60. Will you be my boyfriend/girlfriend? (Maukah kau menjadi pacarku?)
- Yes of course (Ya tentu saja)
- I’m sorry. I can’t (Maaf aku tidak bisa)
61. Where do you usually go to spend your holiday? (Dimanakah biasanya kau berlibur?)
- I usually go to Bali (Aku biasanya pergi ke Bali)
62. With whom do you usually go? (Dengan siapa biasanya engkau pergi?)
- I usually go with my family (Aku biasanya pergi bersama keluarga)
63. Where is your favorite tourism object? (Dimanakah objek wisata yang paling kau sukai?)
- I like Niagara Waterfall (aku suka Air Terjun Niagara)
64. How long will you stay here? (Berapa lama kau akn tinggal di sini?)
- I will stay her for 2 weeks (Aku akan ada disini selama 2 minggu)
65. What time do you usually go to work? (Jam berapakah engkau berangkat bekerja?)
- I usually go to work at 7 a.m. (Aku biasanya pergi bekerja jam 7 pagi)
66. What time do you usually go to school? (Jam berapa biasanya kau pergi ke sekolah?)
- I usually go to school at 7 a.m. (Aku biasanya pergi sekolah jam 7 pagi)
67. What time do you usually get up in the morning? (Jam berapa biasanya kamu bangun pagi?)
- I usually get up at 5 a.m. (Biasanya jam 5 pagi)
68. What time do you usually go to sleep? (jam berapa biasanya kamu tidur?)
- I usually go to sleep at 10 p.m. (Aku biasanya tidur jam 10 malam)
69. What time do you usually take a nap? (Jam berapa biasanya kamu tidur siang?)
- I usually take a nap at 3 p.m. (Aku biasanya tidur siang jam 3 siang)
70. What time do you usually have breakfast? (Jam berapa biasanya kamu sarapan?)
- I usually have breakfast at 6.30 a.m. (Aku biasanya tidur jam 6.30 pagi)
71. What time do you usually have lunch? (jam berapa biasanya kamu makan siang?)
- I usually have lunch at 1 p.m. (Aku biasanya makan siang jam 1 siang)
72. What time do you usually have dinner? (Jam berapa biasanya kamu makan malam?)
- I usually have dinnert at 7.30 p.m. (Aku biasanya makan malam jam 7.30 malam)
73. Can you tell me where the hotel is, please? (Bisakah tolong kau tunjukkan dimana alamat hotel nya?)
- Sure, it is beside the Mall (tentu, Ada di samping Mall)
74. Can you help me, please? (Bisakah anda menolong saya?)
- Of course (Tentu saja)
75. Can you get me some drink, please? (Tolong bawakan saya minuman?)
- Yes, of course. What do you want to drink? (Tentu, mau minum apa?)
76. Can you get me some food, please? (Tolong ambilkan saya makanan?)
- Yes, what do you want to eat? (Ya, mau makan apa?)
77. Where do you want to go? (Kemanakah kamu hendak pergi?)
- I want to go to school (Aku mau ke sekolah)
78. What will you do? (Apa yang akan engkau lakukan?)
- I will study (Aku mau belajar)
79. Would you like to come to my party, please? (Maukah kau datang ke pestaku?)
- Sure (tentu saja)
- I’m sorry, I can’t (Maaf aku tidak Bisa
80. Would you like to come to my house, please? (Bersediakah kau datang ke rumahku?)
- Sure (tentu saja)
- I’m sorry, I can’t (Maaf aku tidak Bisa
81. What can I do? (Apa yang bisa kubantu?)
- Sure (tentu saja)
- It’s all right, I can hadle this (Tidak apa-apa aku bisa lakukan sendiri)
82. Where are you going? (Kemana kamu pergi?)
- I am going to shopping (Aku mau pergi berbelanja)
83. Why do you like English? (Mengapa kamu suka bahasa inggris?)
- Because it is cool (Karena keren)
84. Where do you usually cut your hair? (Dimanakah biasanya kamu potong rambut?)
- I usually cut it in Jenny’s Salon (Aku biasanya potong rambut di Salon Jenny)
85. Where do you usually go for shopping? (Dimanakah kamu biasa berbelanja?)
- I usually go shopping in the market (Aku biasa belanja di pasar)
86. Where do you usually play football? (Dimana biasanya kamu bermain sepakbola?)
- I usually play in the stadium (Aku biasa bermain di stadion)
87. Where do you usually go traveling? (Dimana kamu biasanya jalan-jalan?)
- I usually travel to Bali (Aku biasa bepergian ke Bali)
88. Where do you usually watch movie? (Dimanakah kamu suka menonton film?)
- I usually watch movie in the Cinema (Aku biasa nonton film di Bioskop)
89. Where do you usually go for dating? ( Dimakah kamu biasanya kencan?)
- I have a date in the restaurant (Aku kencan di restoran)
90. What time is it? (Jam berapa sekarang?)
- It is seven thirty p.m. (Sekarang jam 7.30 malam)
91. What day is to day? (Hari apakah hari ni?)
- To day is Sunday (Hari ini hari minggu)
92. What month is it? (Bulan apakah sekarang?)
- I is January (Ini bulan Januari)
93. What year is it? (Tahun berpakah sekarang?)
- It is 2010 (Sekarang tahun 2010)
94. What date is to day? (Tanggal berpakah sekarang?)
- It is 28 November 2010 (Sekarang tanggal 28 November 2010)
95. How much is it? (Berapa harganya?)
- It is Rp 5.000,- (Harganya lima ribu rupiah)
96. What do you want to buy? (Kamu mau beli apa?)
- I want to buy a cake (aku mau beli kue)
97. Can we negotiate the prize? (Apakah harganya bisa ditawar?)
- I’m sorry it s fix price. (Maaf ini harga pas)
98. How many books do you have? (Berapa banyak buku yang kau punya?)
- I have one hundred books (Aku punya 100 buku)
99. How much sugar do you have? (Berapa banyak gula yang kau punya?)
- I have 2 kilograms of Sugar (Aku punya 2 kilogram gula)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More